Pages

Selasa, 17 Februari 2015

ah, jilbab



Kemarin pagi seorang sahabat lama mengajakku bertemu di sebuah mall, meminta untuk menemaninya ke salah satu butik baju muslim di mall tersebut siang nanti, dan tanpa berpikir panjang aku meng iya kan ajakannya. Dengan bekal ilmu kalau pasar adalah tempat yang disukai oleh jin dan dengan bujuk rayu yang dilancarkan oleh setan, aku tidak berpikir dua kali. Entah akan berapa banyak uang yang kuhabiskan. Uang yang jika aku mampu berpikir dua kali, takkan habis untuk hal yang sia-sia.

Jadilah siangnya, aku menemaninya ke mall tersebut. Menunggunya di depan mall dan melihat wajahnya penuh senyum menghampiriku yang menunggunya selama 15 menit membuat segala kerinduan yang kemarin membuncah, menguap begitu saja. Tergantikan kebahagiaan tiada tara karena Allah pertemukan kembali dengan salah seorang hambanya yang berhasil membuat bidadari surga cemburu padanya karena ia mampu membuktikan cintanya pada rabbnya, salah satunya dengan menutup auratnya secara sempurna.

“afwan ya da tadi angkotnya ngetem lama banget jadi aku telat. Salahku juga sih gak berangkat lebih awal.” Ucapnya setelah kami bersalaman. Mendengarnya mengucap ‘afwan’ membuat kecintaanku padanya makin dalam. Ia sudah mengerti, dan aku bahagia karenanya.

“iya gakpapa kok, aku juga belum terlalu lama nunggu. Yuk masuk!” ajakku sambil berjalan menuju pintu masuk

“emang mau beli baju kayak apa sih? Bukannya gamismu udah banyak? Khimarmu juga udah lebih dari dua lusin kan?” tanyaku saat kami menaiki eskalator menuju lantai dua, tempat butik itu berada

“hehe iya tapi ada gamis yang kutaksir da, habisnya lucu modelnya” jawabnya sambil nyengir

“eh, da! Kamu juga beli ya? Kita kembaran!” serunya sebelum aku sempat mencerna apa tujuan sebenarnya dari gadis ini saat ia memutuskan untuk menutup seluruh auratnya dengan jilbab dan akhirnya pikiran itu menghilang begitu saja.

“eeh? Enggak deh yaaa. Cukup kamu aja. Nanti kalau aku cocok sama modelnya, baru aku ikut beli, tapi bilang ummi dulu.” Bukannya aku gak mau langsung beli, tapi memang aku gak pernah beli baju tanpa ummiku. Bukan karena aku gak bisa milih baju buat diriku sendiri, tapi lebih karena apa yang aku lihat bagus buatku, terkadang cuma fatamorgana. Sampai saat ini, cuma ummi yang tahu apa yang terlihat bagus untuk kukenakan.

Tak lama, kami pun sampai di butik yang dituju sahabatku dan aku cukup terkejut karena ternyata butik itu lebih dari ramai, sesak! Setelah berdebat cukup panjang dan dengan mengemukakan alasan-alasan yang tak mungkin terjadi dan dilepas dengan wajah cemberut dan paksaan untuk bersumpah agar aku tak ngeloyor pergi ke toko buku, aku berhasil meyakinkan sahabatku untuk masuk kedalam seorang diri dan aku menunggunya dengan tulus di luar butik. Duduk di atas kursi plastik berwarna biru, khas kursi yang berada di warung-warung pecel lele pedagang kaki lima di pinggir jalan. Kursi yang diatur sedemikian rupa agar mudah diangkut kembali saat satpol pp datang tiba-tiba untuk merazia.

Baru sepuluh menit aku duduk disana, ada dua orang remaja putri masuk kedalamnya dengan wajah sumringah. Yang satu berkerudung biru muda dan yang satu hijau muda, dilihat dari tingkahnya, sepertinya masih SMA. Luar biasa, masih SMA tapi sudah menutup auratnya dengan sempurna.

Belum puas aku mengagumi keadaan pemuda muslimah saat ini, gadis berkerudung biru muda berkata pada temannya
 “La, yang ini lucu bangeeeet” katanya sambil memegang khimar bermotif bunga kecil-kecil berwarna warni, khas baju anak TK. Ooo, nama temannya ada “La” nya, Lala kah? Mila? Dila? Haha aku mendadak  tersenyum memikirkan betapa kurang kerjaannya diriku. 

Tapi senyumku kemudian hilang saat “La” berkata
“iyaaaaa, beli aja! Pasti si X langsung klepek-klepek ngeliat lo pake kerudung ini.” 

APAAAA?!!! Si X? cowok? Seketika lidahku kelu, pikiranku membeku. Bagaimana bisa? Lantas aku memutar kembali ingatanku. Saat berdiri di eskalator, saat sahabatku bilang kalau dia naksir salah satu gamis yang katanya modelnya lucu. Dan tanpa pikir panjang aku masuk ke dalam butik itu dan menarik sahabatku keluar. Dengannya yang melayangkan protes, aku hanya bilang aku ingin pergi ke kamar kecil dan memintanya diam dan menemaniku. 

Di kamar kecil, aku memandangnya dan bertanya
“sebenarnya, apa yang kamu pikirkan saat memutuskan untuk berjilbab syar’i?” tanyaku yang tak tahu rasanya membuka auratku di depan mereka yang bukan mahramku karena dari bayi, ummi dan abi menjagaku.

Sahabatku heran, lantas menjawab “untuk menaati perintah Allah lah da, kan kamu sendiri yang bilang waktu itu.” Aku terdiam, membenarkan perkataannya tapi meragukan jawabannya
“yakin karena Allah? Kalau karena Allah lantas untuk apa baju-baju lucu yang kamu beli? Untuk memikat siapa? Untuk membuat siapa memujimu?” cecarku kepada sahabatku yang kemudian terdiam dan terlihat berpikir

“aku begitu senang melihatmu berubah, begitu senang saat kau memberitahuku bahwa hidayah telah datang padamu dan akhirnya kau menutup auratmu secara sempurna sesuai dengan aturan yang ditetapkannya. Aku begitu bahagia saat banyak bertebaran muslimah-muslimah lain yang sepertimu. Hijrah, menutupi seluruh auratnya secara sempurna. Aku begitu dibutakan dengan banyaknya mereka yang berlomba-lomba datang ke kajian tentang islam, begitu terpukau dengan mereka yang berlomba-lomba memanjangkan jilbabnya, bahkan tak jarang memakai niqab tak lama setelah mereka memutuskan berjilbab syar’i. Aku begitu bangga. Tapi tak pernah berpikir mengapa. Aku kira, penjelasan bahwa hidayah telah menghampiri mereka saja, sudah cukup untuk membuatku beristirahat sejenak dari penatnya menyampaikan makna dari QS Al-Ahzab:59 dan QS An Nur:31. Tapi ternyata tidak. Obrolan dua remaja tadi menamparku hingga terjengkang. Dimana aku saat banyak muslimah berhijab bukan karena Allah? Dimana aku saat banyak muslimah tak tahu menahu apa arti dari jilbab? Apa arti dari menutupi dan melindungi kehormatan dan kemuliaan mereka?” dan aku menangis setelah mengutarakan apa yang kupikirkan. Membuat sahabatku yang mendengarkannya terpana sekali lagi. dan aku tak peduli. Aku tak peduli saat dia memelukku dan berkata

“kau benar, da. Aku berjilbab bukan karena Allah memintaku untuk menutupi auratku dan membantu para laki-laki menundukkan pandangannya.”
Dan satu hal yang terus menerus kupikirkan, apa aku yang hina ini berjilbab karena IA memintaku untuk menjaga kemuliaan dan kehormatanku serta membantu para laki-laki menundukkan pandangannya?

Minggu, 08 Februari 2015

serius



Jadi orang tuh jangan terlalu serius, santai aja.
Haha, lo bisa ngomong gitu? 

 
Coba deh pikir, hidup di dunia, berjuang sendirian, itu bukan main-main
Dengan sedikit waktu yang Allah kasih buat kita, banyak amanah yang harus kita lakuin, apakah ada waktu untuk main-main?
Buatmu yang masih ragu sebenarnya apa tujuanmu dilahirkan di sunia, mending cepat-cepat cari tahu deh
Kenapa? Karena secara sadar atau enggak, kamu udah kehilangan banyak waktumu
Dan dengan menghambur-hamburkan waktumu pada hal yang sia-sia, apakah pahalamu bertambah? Apakah tiap langkahmu menambah pundi-pundi rahmat yang Allah turunkan pada hati hati yang senantiasa mengingat-Nya?
C’mon, sudah bukan waktunya main-main dan menghina orang-orang dengan keseriusan dalam tiap langkah kaki mereka
Mereka yang serius, sudah menemukan alasan, untuk apa mereka dilahirkan ke dunia
Mereka sudah menyusun strategi agar kehidupan mereka tidak penuh dengan kesia-siaan
Mereka yang serius, tertawa lebih sedikit dan menangis lebih banyak karena mengingat satu hal
Tiba saatnya nanti, mereka akan dibaringkan di tempat gelap yang sempit, sendirian
Hanya berbekal kain kafan putih, tanpa perhiasan, tanpa corak
Berbantalkan tanah, ditemani cacing-cacing dan belatung
Menunggu
Menunggu malaikat penanya mengucapkan salam dan mulai bertanya
Siapa tuhanmu?
Mereka yang serius, banyak menangis dan sedikit tertawa sangat memahami bahwa pertanyaan siapa tuhanmu bukan pertanyaan sepele
Kau mungkin ingat karena melatihnya berjuta-juta kali di dunia
Tapi kawan
Akhirat bukan lelucon, begitu juga alam kubur
Ia ujian, dimana kau tak bisa licik selicik saat kau ujian di dunia
Kau menghafalnya, tapi yang menjamin kau bisa bersuara untuk menjawab pertanyaan malaikat penanya bukan hafalanmu, melainan imannmu
Kau tak punya iman? jadi jangan harap kau bisa menjawab pertanyaan yang diajukan malaikat penanya
Bukan malah senyum sambutan selamat datang di alam kubur
Melainkan lecutan kilat yang sakitnya tak tertahankan yang akan kau terima
Aku tahu, tahu sekali
Kata-kata, orang yang banyak mengingat kematian dan menangis karena dosa-dosanya adalah orang yang cerdas, tak lagi membuatmu merinding
Aku mengerti, mengerti sekali
Kau selalu melewatkan banyak informasi tentang kematian karena kau takut dan tak mau membuat dirimu memikirkan seberapa banyak dosa yang telah kau timbun tanpa meminta pengampunan dari yang maha pengampun
Kau selalu berkata
Aku akan kuliah, bekerja, menikah, punya anak lalu melihat anak-anakku tumbuh dan menikah
Tapi saudaraku, apa yang telah kau siapkan untuk menghadapi kematianmu?
Amalmu yang banyak?
Tak ingatkah kau kisah seorang pelacur yang mati kehausan di gurun karena memberi seekor anjing air minum dan hal itu membuatnya masuk surga?
Tak ingatkah kau kisah tentang sahabat nabi yang sakratul maut dan tak kunjung dicabut nyawanya hanya karena ia pernah membuat hati ibunya terluka? Hingga rasul memutuskan untuk membakar tubuhnya karena nyawanya tak kunjung dicabut? Hingga akhirnya hal itu diurungan karena kemudian ibunya meridhainya?
Saudaraku, apa yang menurut kita kecil, belum tentu demikian di mata Allah
Apa yang menurut kita besar, pun bisa jadi hanya sebutir debu di mata Allah yang jika ditiup, hilanglah sudah jejaknya
Begitu juga dengan amal dan dosa yang selama ini kita perbuat, dosa yang menurut kita kecil belum tentu demikian dimata Allah
Amal yang menurut kita sangat besar pun bisa jadi hanya sampah dimata Nya, tak masuk hitungan amal kebaikan yang kita lakukan
Lantas dengan apa kita menjawab ketika nanti Allah tanya
Bahagiakah dirimu, hambaku? Saat sedikit waktu dan banyak kesempatan untuk taat kuberikan padamu, kau malah menolaknya mentah-mentah tanpa keseriusan dan terus menerus tertawa seolah-olah duniamu takkan berakhir

Minggu, 14 Desember 2014

Bunda



Sapaan hangat sang mentari pagi ini membuatnya bimbang, pergi dan -dengan kemungkinan kecil- kembali, atau tidak pergi sama sekali. Ia masih berdiri di ambang pintu, menatap lurus ke depan jalan yang aspalnya berwarna coklat. Ransel yang di sandangnya penuh, seakan berteriak “ayo pergi!” tapi hatinya masih gundah. Meninggalkan sang bunda sendirian membuatnya berpkir seribu kali untuk memutuskan pergi -atau tidak- menyebrangi samudera lalu mendarat di pulau yang tak pernah ia tapaki sebelumnya. Ia tahu sang bunda yang semalaman menangis karena dengan berat hati mengikhlaskan kepergian putri semata wayangnya, masih menangis di dapur dengan dalih membuat sedikit bekal untuk putri tercintanya. Mendekap liontin pemberian bapak yang sudah lama pergi membuatnya gamang. Pergi mengambil langkah untuk mimpi-mimpi besarnya ataukah tetap tinggal di rumah menemani dan membantu bundanya mengurus tempat penggilingan padi yang diwariskan sang bapak.
“ndhuk” panggilan sayang bundanya menggema di telinganya, membuat setitik air yang sejak tadi menggenang di pelupuk meluncur dengan bebasnya. Ia terpikirkan satu hal. Takkan lagi di dengarnya panggilan itu jika ia memutuskan untuk pergi.
“ini bekal untuk di jalan nanti, makannya saat kau sudah mulai terbiasa dengan kapal ya ndhuk, biar tidak mabuk laut.” Pesan sang bunda dengan suara serak. Ia masih tak berani berpaling ke belakang, takut sesuatu seperti ia dengan tiba-tiba memeluk bundanya -yang bengkak matanya karena tak berhenti menangis- sambil menangis meraung-raung mengatakan pada bundanya untuk ikut bersamanya atau tak membiarkannya pergi terjadi.
“bun, ikutlah. Biarlah kita titipkan rumah dan penggilingan pada paman dan bibi.” Jawabnya setelah hening menyelimuti jarak antara mereka. Ia bukan tak tahu alasan mengapa bundanya bersikeras tak mau ikut pergi ke jakarta. Ia tahu semingguan ia meyakinkan sang bunda untuk pergi sia-sia hanya karena bundanya tak ingin tak ada tempat untuknya kembali.
“bunda sangat ingin ikut ndhuk, tapi lihatlah apa yang sudah ditinggalkan bapakmu untuk kita? Tak ingatkah kau saat dulu dengan penuh tawa kau langkahkan kaki-kaki kecilmu untuk berlari? Ndhuk, kau putri bunda satu-satunya, kesayangan bunda. bunda tak ingin saat ada sesuatu terjadi denganmu, kau tak memiliki tempat untuk kembali. Seorang gadis, sekuat apapun ia terlihat dari luar, ia tetap rapuh, ia harus punya tempat untuk menenangkan pikiran dan menata hatinya saat dunianya kacau balau. Ibu hanya ingin kau memiliki tempat itu ndhuk, dan dimana lagi yang bisa memberikanmu kenyamanan selain di rumah yang kau tinggali sejak kecil? Tempatmu tumbuh besar bersama bapak yang sekarang tinggal kenangan. Bunda inginn pergi bersamamu, melihatmu mengejar mimpi-mimpimu, ada saat kau butuh belaian penuh cinta dari bunda, tapi bunda tak ingin suatu saat nanti ketika bunda sudah tak ada, kau tak punya alasan untuk kembali. Jika bunda meninggal saat bersamamu disana, bunda tak bisa menjamin kau akan membawa bunda kesini dan memakamkan bunda disebelah makam ayahmu, tapi jika bunda meninggal disini, di rumah ini, bunda ingin kerinduanmu pada bunda yang menjadi salah satu alasan untukmu kembali ke rumah ini ndhuk.” Panjang lebar sang bunda mengulangi apa yang sebelumnya pernah dikatakannnya pada putri semata wayangnya sambil berlinang air mata, putrinya diam, membeku karena tak pernah betul-betul mendengarnya. Ya, sang bunda memang menceritakannya saat putrinya terlelap, jauh di alam bawah sadarnya.
“bunda sudah tua ndhuk” lagi. suara itu memecah konsentrasi putrinya yang terpaku, menyambungkan beberapa saraf-saraf di otaknya dan mencoba mengulang perkataan bundanya yang baru saja ia dengar.
“a..aku.. b..bagaimana bisa bunda berkata seperti itu? Aku tak mungkin tak kembali. Tak mungkin. Bagaimanapun juga ini rumah tempat bunda melahirkanku. Aku pasti kembali bunda. Ikutlah bersamaku. Aku tak butuh temmpat untuk menenangnkan diri jika bunda bersamaku. Cukup bunda saja. Cukup pelukan bunda yang membuatku kembali berdiri tegak. Bunda tahu akan hal itu kan? Lantas mengapa bunda bersikeras untuk tinggal disini dan membiarkanku pergi hanya karena bunda berpikir aku butuh tempat untuk kembali? Tidak bunda. Aku sama sekali tidak butuh tempat untuk kembali selagi bunda bersamaku. Lagipula, jika sesuatu terjadi pada kita nanti, aku akan berusaha kembali kalau memang kita harus kembali. Rumah ini takkan kita jual bunda, hanya kita titipkan pada paman dan bibi agar ada yang merawat. Bunda tahu kan yang memberatkan langkahku adalah meninggalkan bunda bersama sepi disini?” runtuh sudah dinding pertahanan yang sejak tadi ia bangun. Air matanya sudah menganak sungai bersama dengan tubuhnya yang kini gemetar menahan perasaannya agar tak lagi keluar bebas dan membuat bundanya semakin bersedih. Ia menghampiri bundanya dan berlutut, memeluk kaki bundanya seraya berkata “hidup cuma sekali bunda, aku ingin yang sekali itu tidak kubuat menjadi sia-sia hanya karena aku tak bersama bunda saat aku bisa bersama bunda. Bunda bilang ingin dimakamkan disamping makam bapak? Aku akan ingat itu seumur hidupku bunda. Jika tiba saatnya nanti, walaupun dengan berlinang air mata, walaupun dengan pikiranku yang kacau karena IA membawa pergi dunia ku, menghancurkan hidupku, aku akan tetap mengingat pesan bunda. Akan kubawa bunda kembali kesini dan melaksanakan apa pesan bunda. Aku berjanji aku takkan pernah melupakannya meskipun bunda melupakannya. Aku berjanji walaupun aku tak bisa mengantar bunda, selama aku masih tetap bernafas dan sadar, aku akan menepati janjiku bunda. Aku takkan pernah mengecewakan bunda walaupun itu berarti aku kehilangan duniaku.” Habis sudah. Ia keluarkan semua hal yang selama ini memeratkannya melangkah menggapai mimpi, menunggu reaksi dari sang bunda yang wajah teduhnya tak berani ia lihat.
“ndhuk..” akhirnya sang bunda membuka suara, membuatnya yang sedang tersungkur memeluk kedua lutut bundanya mendongak.
“jangan pergi”




Untuk duniaku yang saat ini tak bisa kugenggam dengan nyata. Bundaku yang kini perlu 3 jam untuk tiba di pelukannya. Rindu itu masih ada, namun kini tersimpan rapi dengan gembok yang kuncinya kau pegang. Putrimu baik-baik saja, sungguh.

Senin, 22 September 2014

.

Aku diam bukan berarti tak mendamba sosok sepertimu
Saat yang lain dengan hebohnya membicarakanmu, aku memilih memberhentikan obrolan mereka dan memarahi mereka
Belum waktunya! kubilang
Aku tahu dalam hatiku akupun berharap seperti mereka
Memimpikanmu di tiap tidur malamku yang tak teratur
Akupun diam-diam mencarimu kala kita memiliki momentum yang sama
Tapi saat ku edarkan pandanganku, hati kecilku menamparku
Memaksaku menundukkan pandanganku dan melupakan dirimu
Lagi-lagi karena belum waktunya aku mencarimu
Kau harus tahu
Kita belum lagi dipertemukan tapi aku sudah merindukanmu
Kita belum jua bersua tapi hati ini sudah terpikat padamu, mencintaimu
Aku mengerti sekali kau menunggu saat yang tepat untuk menjemputku
Akupun menunggumu mengetuk pintu rumahku dan memintaku dari ayahku
Tapi ini benar-benar bukan waktu yang tepat, atau setidaknya belum
Kita masih saling berkejaran dengan waktu untuk bisa bertemu di satu titik dimana di titik itu kapal kita akan berlabuh
Kita masih mengejar cita yang dulunya kita impikan bersama
Entah berapa lama lagi sampai takdir mempertemukan hati kita
Tapi aku ingin kau tahu, aku ingin kau terbang jauh melintasi tiap benua untuk mengejar apa yang kau impikan sejak dulu
Karena aku takkan memintamu tergesa gesa mengambilku dari ayahku!

Jumat, 19 September 2014

Dadakan

Long time without posting or updating this blog. Pengen bgt sebenernya posting lagi cuma apa daya seorang maba yang lagi galau sama kehidupan kampus yang bener bener diluar bayangan. Lanjut. Ini lg seminar sebenernya cuma daritadi tuh jari gatel gitu pengen posting di blog. Semacam rindu gitu konyol konyolan #halah. Eh betewe ini posting pertama di bandung loh! Dan dibuat dalam sikon yang sebenernya gak cocok buat posting curhatan gini hohoho. Sesi pertama seminar ini luar binasah eh biasa banget. Kalau inget nanti di post deh rangkumannya. Kalo inget yah :p udah dulu lah. Ini cuma posting iseng sih, abaikan saja aku rapopo kok :3

Kamis, 03 Juli 2014

...

Aku bisa mengerti mengapa orang orang yang dulu mempercayakan banyak hal kepadaku tak lagi melakukannya karena aku akan pergi
Aku bisa mengerti ketika banyak hal yang harus dikerjakan, kekurangan orang tapi tak mengajakku ikut serta karena aku akan pergi
Aku bisa mengerti ketika akhirnya aku hanya akan menjadi penyemarak karena aku akan pergi
Aku bisa mengerti
Atau setidaknya mencoba mengerti
Aku tahu mereka memikirkanku
Tahu mereka pun mencoba memahami keadaanku yang akan pergi
Tapi belum saatnya aku pergi
Walau ini adalah hari hari terakhir aku disini
Aku masih ingin melakukan banyak hal disini
Masih ingin ikut serta membentuk setiap kegiatan seperti dulu
Seperti aku yang seharusnya
Aku ingin disibukkan dengan segala hal saat ini
Aku benci memikirkan aku akan pergi dan menjadi seorang diri di tempat orang untuk sementara waktu
Aku benci menahan ketakutan kalau disana takkan sebaik disini
Aku benci saat aku melamun dan memikirkan banyak hal membahagiakan yang pastinya akan kutinggalkan disini
Tapi aku tak bisa menyalahkan siapapun
Aku tak bisa tiba tiba berteriak dan bilang
Kenapa kalian mengabaikanku?
Kenapa kalian tak membiarkanku ikut serta?
Kenapa kalian mencoba mengerti hal yang tak bisa kalian mengerti?
Aku berselimut duka saat ini
Membusuk dalam ketakutan
Aku butuh sesuatu yang menghabiskan tenagaku
Sesuatu yang memaksaku berlari mendahului waktu
Sesuatu yang dulu selalu menyertaiku dimanapun aku berada
Aku butuh bergerak berkejaran dengan waktu 
Aku butuh memikirkan sesuatu agar otak ku tidak tumpul
Aku butuh merencanakan sesuatu yang membuat tubuh dan pikiranku terus bergerak
Aku lelah
Lelah tak melakukan apapun
Lelah karena memikirkan hal hal menakutkan tentang tempat tujuanku
Aku lelah
Tak bisakah kudapatkan kepercayaan seperti dulu lagi?
Aku mampu
Aku mampu walaupun aku akan pergi
Aku masih mampu walaupun aku sudah pergi
Aku hanya butuh kepercayaan seperti yang dulu selalu kudapatkan ketika tak ada seorangpun dari kita yang tahu kalau aku akan pergi

Jumat, 06 Juni 2014

aku waktu kecil

"bersamamu ku habiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu. rasanya semua begitu sempurna..."

ah, petikan lirik lagu itu selalu mengingatkanku pada sahabat-sahabat kecilku dulu. ingat begitu saja waktu dulu leluasa bermain bersama, menjelajah bersama.
satu-satunya beban hidup yang ku pikul hanya saat ummi tak mengizinkanku mengayuh sepedaku di siang hari yang terik untuk bertualang mencari ikan di empang yang terletak di sebuah kampung dekat perumahan tempatku tinggal.
sampai harus kabur lewat jendela berangka besi, terdengar tak mungkin bukan? tapi itu kulakukan berdua dengan adikku demi memuaskan keinginan kami bersepeda menuju empang, keluar dari perumahan menuju kampung yang terletak persis di sebelah perumahan tempat kami tinggal. kami tahu jalan pintas agar bisa sampai kesana dan kembali sebelum ummi bangun tidur. kami juga sudah beberapa kali mencobanya dan berhasil.
di blok paling akhir di perumahan kami, ada sebuah pintu kecil yang menghubungkan kami langsung ke empang yang ingin kami tuju dan teman-teman kami pasti sudah menunggu disana, di atas sepeda-sepeda mereka. membawa plastik dan saringan teh untuk menangkap ikan.
tapi apa kalian tahu? kami tak pernah benar-benar menangkap ikan. saat sampai di empang, keinginan kami untuk menangkap ikan selalu hilang begitu saja dan akhirnya yang kami lakukan hanya menghampiri bapak-bapak yang sedang memancing. diam saja,duduk di samping mereka. seringkali bapak-bapak itu memberi kami ikan-ikan kecil hasil pancingan mereka dan kami girang bukan kepalang. tuntas sudah misi kami. dan biasanya setelah semua orang mendapat ikan, kami berlomba mengayuh sepeda kencang-kencang dan pulang ke rumah. aku sering kembali berhasil masuk lewat jendela tanpa ketahuan ummi. tapi pernah suatu kali aku dan adikku tertangkap basah.
saat itu, kami baru saja masuk ke gerbang rumah kami dan memarkir sepeda. tapi setelah kami membalikkan badan, muncul seorang wanita cantik berpakaian putih-putih, ummi kami memakai mukena. wajahnya datar,tapi matanya melotot. disuruhnya kami berdua masuk ke rumah dan sampai di dalam, di marahi lah kami berdua,ummi mengancam akan menjual sepeda kami ke pemulung yang tiap sore lewat jika kami tak mau menurut. tapi kau tahu, ancaman tak berlaku pada dua bocah nakal seperti kami, rasa ingin tahu kami mengalahkan rasa takut kami pada ancaman ummi kami.
kami tetap bermain-main ke empang sampai aku kelas 1 SMP dan adikku masuk pesantren.
tapi petualanganku bersama sahabat-sahabat kecil itu tak hanya sebatas empang dan ikan. aku masih ingat jelas saat kami memainkan permainan yang aku yakin kalian semua pasti pernah memainkannya, yap bete 7. masih ingat kan? saat kita menumpuk 7 buah batu dan melemparnya dengan batu yang lain hingga tumpukan batu itu roboh dan yang kalah harus menumpuk kembali batu itu sementara yang lain berlarian untuk bersembunyi? aku ingat memainkannya di depan rumahku persis, dan aku selalu bersembunyi di atas pohon dan menjadi pahlawan dengan menendang tumpukan batu yang telah disusun oleh temanku. permainan itu termasuk salah satu permainan yang tak pernah luput kami mainkan setiap sore selama 3-4 kali dalam seminggu. ah, aku jadi rindu.
tak hanya bete 7, benteng pun kami mainkan. pernah kami melawan anak kampung dan menang, tapi seringkali kami kalah karena mereka main curang. dan kami tak pernah kapok bermain bersama mereka.
masa kecil ku penuh dengan cinta, tiap kali bermain bersama sahabat-sahabat ku, aku merasakannya. kehangatan yang menjalar padahal mereka bukan saudara sedarah. masa kecil ku penuh kejayaan, memenangkan semua permainan yang ku mainkan membuatku besar kepala, jatuh dan berdarah bukan lagi suatu pengorbanan besar buatku untuk menang. bekas luka di kaki dan tanganku tak bisa hilang, sampai saat ini masih terlihat jelas,membuatku seperti anak kampung. tapi itulah bukti kebahagiaanku waktu kecil, bukti bahwa aku telah memainkan semua permainan yang dimainkan anak-anak dulu, bukti bahwa aku menang dan luka-luka ku adalah penghargaan yang kudapat atas kemenanganku. bukti bahwa aku kuat karena masih bisa menang dengan semua luka yang kudapat. obat merah menyentuhku lebih sering dari sabun, kapas dan perban membalut luka ku lebih sering dari handuk dan aku bangga. bangga karena sahabat-sahabat kecilku masih tersimpan rapi di hatiku dalam bentuk kenangan indah.

"apa yang kau cari, telah kau miliki, bersamamu tanpa kau sadari~"