Pages

Rabu, 08 Juli 2015

Baper



Bismillah
Akhir-akhir ini banyak kita jumpai diantara kalangan manusia khususnya remaja, kata “baper” yang seringkali dikaitkan dengan keadaan yang gegana alias gelisah galau merana. Bukan karena kiriman uang telat, bukan juga karena tugas kuliah yang numpuk atau UAS yang dipending sampai setelah lebaran. Melainkan karena satu makhluk yang memang ditakdirkan untuk menjadi pelengkap langkah kaki kita di bumi, yak lawan jenis. Karena gue cewek, gue bakal mengganti kata-kata ‘lawan jenis’ dengan ‘cowok’. Kalau lo cowok, ya ganti aja sendiri kata-kata ‘lawan jenis’ dengan ‘cewek’. Oke kita mulai.
Sebelum terlalu jauh, sebenarnya baper itu apa sih? Kayaknya kalau seorang remaja menjelang dewasa atau seorang bocah menjelang remaja atau bahkan seorang remaja asli tanpa menjelang-menjelang, ngomongin tentang perasaan yang emang gak ada habisnya dan gak pernah basi sampai tiada hari terlewat tanpanya, itu sesuatu banget. Berarti kadar galaunya udah mendekati ambang batas maksimal yang bisa dicapai seseorang yang fase hidupnya masih berkaitan atau bersenggolan dengan fase remaja. Iya gak sih? Atau gue doang yang ngerasa? Haha
Sebelum lanjut bahas apa itu baper, gue ingetin dulu deh biar gak ada yang lupa kalau ini semua cuma spekulasi gue belaka, fiktif yang gak gue sadur dari cerita orang lain dan gak gue amati pakai metode-metode yang you know lah yaa. Jadi kalau ada kesamaan cerita, tokoh, cara pandang atau bahkan kata atau kalimat yang lo banget, jangan salahin gue, mungkin kita memang sehati (jangan baper!).
Oke, lanjut. Menurut gue, baper adalah suatu kondisi dimana hal-hal yang sebenarnya sepele dan harusnya dipikir pakai logika, malah dipikirin pakai hati (apasih gue). Contohnya, nih, ya. Lo lagi suka sama seseorang, nah tau-tau dia nge bbm, nge wa, nge mention, nge line atau nge apapun itu di saat yang gak lo sangka-sangka, kayak gini contoh pesannya
A : hai, B. apa kabar?
Pasti lo langsung baper kan?! Berbagai pertaanyaan pasti langsung nongol dari hati lo yang terlalu rapuh untuk menerima kenyataan. ‘deg! Si A nanyain kabar gue. Jangan-jangan dia suka sama gue’ yaampyun plis banget, girls. Itu cuma apa kabar pakai tanda tanya, bukan apa kabar cantik pakai tanda tanya. Pasti lo langsung kalang kabut dan curhat ke semua temen lo ‘gue bales apa nih?’ ‘bales gak ya?’ ‘kalau dibales ntar kesannya gue gampangan tapi kalau gak dibales nanti dia salah paham’ *tepok jidat* braaaay, halusinasi lo berlebihan.
Sebenarnya gue takjub gak takjub sih ngeliat fenomena baper di negara kita tercinta ini. Bayangin aja, cuma dengan satu kalimat yang sebenarnya kalau disikapi dengan cara yang benar, itu jadi kalimat yang biasa aja kan? Tapi karena disikapinya dengan cara yang berlebih lewat kepekaan tingkat tinggi, jadilah kalimat ‘apa kabar’ itu bagai kalimat ‘maukah kau menikah denganku’.
Bukan cuma ke cowok, baper juga bisa ke temen biasa. Nih contohnya, temen lo update pm
Temen makan temen lo!
Terus lo langsung baper deh tanpa tedeng aling aling. ‘duh! Dia marah sama gue ya?’ ‘gue salah apa sama dia?’ ‘apa gue minta maaf aja ya? Tapi gue salah apa?’ ‘jangan-jangan besok dia gak mau negur gue’ dan yang paling ekstrim adalah ‘apa gue pindah kuliah aja ya? Daripada gue dibully’ dan ketika statement yang keluar dari pikiran lo adalah statement terakhir, gue cuma bisa bilang, berhenti nonton tv, berhenti nonton film-film bergenre romance yang gak jelas, berhenti gaul sama princess princess wannabe, bray.
Kita semua tau kan, kalau suka sama lawan jenis gak pernah dilarang dalam agama kita, karena itu fitrah manusia. Yang dilarang dan seringkali jadi penyebab banyaknya bayi yang ditemuin ngambang di selokan, adalah mendekati zina yang akhirnya berujung ke perzinaan. Berpikir yang enggak-enggak tentang cowok yang lo suka. Ah gimana ya kalau nanti gue udah nikah sama dia, berkhayal sambil mikirin wajahnya. Gimana sih rasanya gandeng tangan sama dia, berkhayal lagi. kenapa Allah ngebolehin kita suka tapi gak ngebolehin kita buat ‘kayak gitu’ sama lawan jenis? Well, girls. Everything happen for a reason dan karena gue cuma bisa berspekulasi, maka gue bilang sama lo, hamba-hamba Allah yang beriman gak akan pernah lepas dari ujian. Hamba-hamba Allah yang beriman, gak akan pernah Allah biarkan tersesat. Apalagi, belum waktunya buat lo mikirin cowok yang bukan mahram lo. Jadi ketika lo suka sama cowok dan lo bisa nahan diri lo untuk gak mengkhayalkan dia, lo bisa nahan diri lo untuk gak baper dan banyak berharap ketika dia ngehubungin lo, gue kasih semua jempol yang gue punya buat lo. Selamat! Lo naik level satu tingkat lebih dekat sama Allah karena berhasil menjauhi apa yang IA larang.
Perempuan itu, pondasi terbentuknya peradaban. Sepuluh lelaki gak akan bisa melahirkan, walau hanya seorang perempuan kan? Tapi seorang perempuan bisa melahirkan lebih dai sepuluh lelaki. Iya kan? Gak Cuma itu, girls. Pernah dengar kan kalau ibu itu sekolah pertama bagi anak-anaknya? Kalau ibunya gak bener, otomatis hasil didikannya gak akan bener kan? Iya kan?
Sebenarnya, girls. Baper itu kalau dipakai sesuai dengan kepanjangannya, harus loh. Karena kalau kita gak baper, kita kayak pembunuh berdarah dingin, atau psikopat yang tiap hari mainan gergaji mesin, atau bahkan kanibal yang ngeliat tangan orang sebagai lauk pauk udah biasa aja. Masalahnya, baper sekarang ini diartikan terlalu membahana badai luasnya. Jadilah bermunculan kalimat-kalimat ‘stop baper’ atau ‘jangan baper’ atau yang berbau pencegahan baper karena ternyata efek baper yang kelewatan luasnya itu mengkhawatirkan. Lo bisa tau-tau pindah kampus, atau mendadak hitz di timeline karena baper dan update status tiap 60 detik sekali.
Sebelum gue tutup dengan hamdalah, gue mau kasih pertanyaan yang jawabannya biar cuma lo dan Allah yang tau, tapi syaratnya, berpikir dulu sebelum menjawab ya.
“menurut lo, berdasarkan pengalaman lo, analisa lo terhadap kehidupan lo dan orang lain, baper itu perlu gak sih?”
Alhamdulillah

Senin, 20 April 2015

Kartini

Terlepas dari segala perdebatan tentang sejarahnya
Tentang isi dari surat suratnya yang cerdas
Terlepas dari segala citra positif maupun negatif yang diberitakan dari mulut ke mulut
Kartini, adalah seorang pahlawan
Yang ketika namanya disebut, maka terdongaklah kepala kepala, dan diingatlah kaum perempuan
Kartini, adalah simbol perlawanan akan ketidakadilan dalam dunia pendidikan, ketidakadilan dalam pengambilan peran untuk membangun bangsa
Tapi untukku, kartini adalah kau yang membiarkanku berdiam diri di dalam hangatnya tubuhmu selama sembilan bulan
Kartini bagiku hanyalah kau yang dengan penuh cinta merawatku, membentukku hingga menjadi aku yang sekarang
Bagiku, hari ini bukan untuk kartini yang membuat seorang dowes dekker menghimpun idenya dan membantunya melahirkan habis gelap terbitlah terang
Hari ini, untuk sosok yang sama sama berjuang seperti kartini
Untuk sosok yang sama sama ingin mencerdaskan dan membangun, seperti kartini
Hari ini, untukmu
Ummi

Jumat, 27 Maret 2015

Blank space

Eberybody has a blank space on their mind, right?
Bangun tidur pagi pagi buta lalu terdiam, mengosongkan pikiran beberapa detik kemudian, mengucap hamdalah karena masih diberi izin untuk hidup
Setelah hamdalah, diam, lantas melangkahkan kaki untuk berwudhu ditengah hembus angin pagi dengan rasa malam yang menelusup lewat celah celah kecil diatas pintu dan jendela-jendela yang dilapisi pelindung nyamuk
Membuat bulu roma berdiri lantas mengusapnya, mengurangi dingin yang sebenarnya tak berkurang
Memakai mukena dan bersujud, setelahnya diam lagi
Menikmati hening pagi yang belum tercemar kokok ayam atau kicau burung
Mendengar deru angin yang lembut menyapa pintu dan jendela
Lalu memejamkan mata
Seringkali, saat saat itu mengingatkan akan banyak hal
Membuat berjuta pertanyaan yang sejatinya menggelayut ringan menjadi berat dan menuntut jawaban
That blank space, make you different.
Kadang blank space mu membuatmu terasing dari orang orang yang mengelilingimu
Memaksamu terdiam dan tak memikirkan apapun saat yang lain tertawa terbahak
Membenak
Aku ini apa
Siapa
Mengapa aku ada di sini
Untuk apa
Lalu semua pertanyaan itu membuyar
Begitu saja saat seseorang menyentuhmu
Menyadarkanmu bahwa
Kau hidup di dunia dengan berjuta kepingan milikmu di tangan orang lain
Kau hidup
Begitu saja seolah tanpa rencana
Lalu menanggung beban berat kehidupan
Kehidupan yang memang tak pernah kau minta tapi tuhanmu, dengan baik hati memberinya padamu
Bukan pada seekor kupu kupu atau sebatang pohon
Bukan pada tetes air hujan atau butiran pasir di laut
Melainkan, padamu
Yang seringkali mempertanyakan dimana IA saat kau jatuh dan berdarah
Yang seringkali menolak segala kebaikan yang IA takdirkan untukmu
Tanpa sedikitpun tahu apa yang terbaik bagimu
Kau memang tak pernah meminta kehidupan
Tapi bersyukurlah
Karena mendapat kehormatan sebagai makhluk paling mulia dan sempurna
Dan kesempatan menjadi calon penghuni surga
Maka gunakanlah
Kesempatan yang tuhanmu beri padamu untuk menjadi seorang penghuni surga
Gunakan dengan baik
Jangan biarkan keragu raguan menghinggapimu hingga membuatmu berpaling
Jangan biarkan mereka yang usil mengomentari segala hal tentangmu, membuat kesempatanmu menjadi seorang penghuni surga, menguap begitu saja menghampiri orang lain
Ya, blank space mu harus kau manfaatkan sebaik kungkin
Bukan untuk mencari pertanyaan atau jawaban dari pertanyaan pertanyaan yang belum waktunya untukmu mengetahui jawabannya
Manfaatkan blank space mu untuk mensyukuri segala yang tuhanmu anugerahkan padamu
Manfaatkan blank space mu untuk memuhasabah dirimu dan mengingat tujuan diciptakannya dirimu
Manfaatkan blank space mu
Untuk merubahmu menjadi lebih baik lagi
Mengingatkanmu bahwa dunia tak lebih dari sekedar tempat singgah
Mengingatkanmu bahwa
Yang menunggumu hanya dua
Surga
Atau
Neraka

Selasa, 24 Maret 2015

Uang

Uang bukan segalanya
Aku merasakannya
Saat pagi menyapa dan hening mendekap erat tubuhku yang terduduk kaku bersama bayangan
Segala hal tentang rumah yang kutinggalkan puluhan kilometer di belakang, tiba tiba menyeruak dari batin
Berebut ingin keluar, membuat hangatnya mentari yang tak seberapa itu, benar benar tak terasa
Aku punya uang
Tapi untuk apa?
Tak ada lagi guncangan lembut di tubuhku dari bundaku yang dulu terbiasa melepaskanku dari cengkraman mimpi
Tak ada lagi gurauan penuh cinta dari ayahku yang dulu menghidupkan pagiku
Sarapan?
Rasanya berbeda tanpa secangkir teh penuh sayang dari bundaku yang selama 18 tahun terakhir, selalu kunikmati tiap pagi
Saat rindu mencuat bagai duri landak yang memohon perlindungan, aku terpaksa bangkit dari dudukku
Menyambar tas, merobek hening yang nyaris membuatku sesak kehabisan nafas
Aku punya uang
Tapi sepi mengiringi tiap langkahku
Lalu untuk apa?
Bundaku memberi segalanya yang bisa ia beri untukku
Tapi yang kubutuhkan, sungguh hanya hadirnya di depanku

Sabtu, 21 Maret 2015

Pertiwiku

Aku melihatmu tenggelam hari ini
Atau lebih tepatnya
Menenggelamkan diri
Ada apa denganmu?
Aku mengingat sisa percakapan kita semalam
Kau menangis
Bukan dengan airmata kepura puraan seperti yang dulu sering kita lakukan saat melakonkan beragam teatrikal
Melihat air matamu yang meluncur deras semalam, aku merasakan sakitnya juga
Kau menangis dengan melibatkan hatimu seluruhnya
Negeri kita
Desahmu diikuti dua kata yang membuatku seolah tertampar
Ya, kukira kau menangisi keegoisanmu
Tapi ternyata tidak
Tangismu untuk pertiwi
Dan aku yang terpana, mulai ikut menangis bersamamu
Kukira, semalam saja cukup untukmu menumpahkan segalanya
Tentang betapa inginnya kau tinggal di sebuah negara yang seluruh dunia tahu bahwa keanekaragaman budayanya membuat setiap negara iri
Tentang betapa bahagianya dirimu jika semua orang di dunia mengenal negara kita karena hutan kita, lahan kita, paru paru dunia
Kau lalu menghela napas dan bergumam sendiri tanpa mengajakku
Tapi mungkinkah?
Saat para pejabat ribut akan sengketa kekuasaan
Mungkinkah?
Saat hukum yang dibangun di atas undang undang dasar dan pancasila tak lagi memperlihatkan keadilan
Benarkah masih mungkin?
Saat jutaan anak anak dicekoki kejamnya hidup di jalanan
Dicekoki pornografi bahkan oleh orangtuanya sendiri
Dicekoki rokok, shabu dan narkoba atau bahkan hal remeh seperti lem, oleh lingkungan yang tak pernah bersahabat dengannya, bahkan saat ia masih dalam kandungan
Mungkinkah?
Negeri ini terlalu parah bobroknya
Terlalu nyaman penghuninya beraksi hanya lewat gosip gosip dan sumpah serapah murahan, tanpa benar benar menyelamatkannya
Entah dengan belajar membuang sampah pada tempatnya
Entah dengan belajar merawat pepohonan yang seringkali jadi objek keisengan tangan tangan usil
Entah dengan tidak memberi walau hanya lima ratus, atau seribu dua ribu pada pengemis di lampu merah
Entah dengan menaati peraturan lalu lintas
Entah dengan menjadi pejabat dan perangkat negara yang bekerja sesuai fungsinya
Entah dengan banyak hal kecil lain, yang jika disatukan akan menjadi besar
Entahlah
Kami terlalu sibuk dengan melempar isu lalu mengomentarinya dengan meminjam nama seisi penghuni kebun binatang, ketimbang harus berlelah lelah membaca dan mempelajari situasi negara kami saat ini
Kau lalu menatapku setelahnya
Menggenggam jemariku yang dingin karena udara malam dan keluhmu tentang tanah yang kita pijak, pertiwi yang jadi tempat kita bernaung
Teruslah berbuat baik tanpa memuji perbuatan baikmu sendiri
Teruslah tersenyum untuk oranglain, bukan untuk dirimu yang semakin cantik karena perbuatan perbuatan baikmu
Teruslah memuji, jangan lagi mengkritik
Teruslah menemaniku
Membenahi helai demi helai rambut pertiwi yang acak-acakan
Menyeka bekas air mata yang tak kunjung kering di pipinya yang makin keriput
Membuatnya tersenyum kembali walau hanya sedetik atau dua detik dengan segala usaha yang kita lakukan untuk membuat negeri kita berubah menjadi lebih baik
Biarlah jika hanya ada kita berdua saat ini
Nanti akan tiba saatnya bagi anak cucu kita menggantikan tangan tangan kita yang selalu bergerak untuk berbenah
Aku ingat jelas kata katamu semalam
Janji janji yang kita buat untuk pertiwi
Bahwa putra putrinya masih tetap setia menjaganya
Tapi hari ini, saat kau tenggelamkan sinarmu yang semalam membuatku silau dalam mendung
Kau menghampiriku dan berkata dengan wajah kusut dan mata yang menatap sayu
Aku berhenti
Katamu
Lalu kemudian aku melihat koper besar yang kau bawa
Aku akan pergi
Katamu tanpa sempat aku meluncurkan pertanyaan
Ke negeri sebrang
Mereka membutuhkanku
Menjaminku dengan sesuatu yang tak bisa dijamin bahkan oleh negeriku sendiri
Aku tak punya pilihan
Dan begitu saja, tanpa pelukan atau salam perpisahan yang seharusnya
Kau berbalik, meninggalkanku yang masih termangu
Kukira kau berbeda
Tapi ternyata tidak
Kau sama saja dengan jutaan putra putri pertiwi yang pergi karena sinarnya tak dihargai oleh negerinya sendiri
Dan aku menatap langit, menatap pertiwi
BERAPA BANYAK LAGI YANG AKAN KAU BIARKAN PERGI, BU?

Sabtu, 14 Maret 2015

menjadi ibu



Karena menjadi ibu bukan pekerjaan mudah
Bangun pagi-pagi buta setiap harinya

Lebih dulu mandi dan menyiapkan sarapan

Karena tak mungkin kau bangunkan anak-anakmu saat kau dalam keadaan kacau, bau dan dengan wajah serta rambut acak-acakan

Membangunkan putra-putrimu, pun bukan perkara mudah

Karena kau tahu persis bagaimana rasanya dibangunkan ibumu saat kau masih dalam dekapan hangat tempat tidurmu

Meminta mereka mandi dan sarapan juga tak pernah terlihat semudah membalikkan telapak tangan

Belum lagi jika putra-putrimu ingin tanganmu yang memandikan dan menyuapi mereka

Setelah mereka berangkat sekolah dan suamimu berangkat ke kantor, kau diwajibkan untuk berpikir kreatif, apa yang akan kau masak hari ini? Bagaimana caranya agar masakanmu mengandung gizi-4 sehat 5 sempurna-yang dibutuhkan putra-putrimu, juga suamimu dan dirimu sendiri?

Saat tiba di pasar kau harus tahan dengan beceknya tanah yang kau injak, bau amis ikan, darah dan kadang bercampur busuknya sampah yang mau tidak mau harus kau cium saat kau putuskan untuk membeli bahan-bahan yang tak mengandung zat berbahaya dan terjamin kualitas serta kesegarannya.

Tak ada lagi nyanyian bawel ibumu untuk memintamu melakukannya

Kau hanya sadar dengan sendirinya bahwa kau harus melakukannya

Seperti ibumu dulu

Bersusah payah, menahan mual demi memuaskan keinginan buah hatinya

Apa yang ingin kau makan hari ini, nak?

Pertanyaan yang biasanya ibumu tanyakan padamu sekarang kau tanyakan pada anakmu

Dan demi ayam goreng, sayur sop, atau orek tempe kau harus mampu menahan bau menyengat yang menjadi ciri khas tempat dimana akan kau jumpai bahan-bahan untuk membuat senyum bahagia mengembang di wajah anak-anakmu

Mengolahnya juga tak pernah semudah memakannya

Kau, dengan sedikit kantuk dan pegal yang masih terasa karena kemarin menyetrika segunung pakaian harus beranjak lagi untuk mengolah apa yang sudah kau beli sebelum waktunya bagi anak-anakmu pulang sekolah dan meminta bundanya menyuapi, lagi

Saat mengolah semuanya, kau lalu ingat betapa dulu, bundamu sangat kuat

Mengurusmu dan kakak adikmu dengan sangat baik dan tanpa keluhan sedikitpun

Dan berkaca dari bundamu, kau mulai bertekad untuk bisa lebih baik darinya

Apa yang tidak kau dapatkan saat dalam pengasuhan bundamu mulai jadi perhatianmu, kau tak mau anak-anakmu mengalami hal yang sama sepertimu

Kau mulai menyusun rencana-rencana besar untuk buah hatimu yang kemudian disusul dengan niat untuk menabung sebanyak-banyaknya demi putra-putrimu

Lalu setelah beres memasak, kau mulai mencoret-coret di buku anggaran bulananmu

Biaya apa yang bisa ditekan, berapa sisa biaya bulananmu, berapa gaji suamimu, berapa anggaran belanja bulananmu, berapa dana yang kau alokasikan untuk keperluan mendadak, berapa yang dapat kau tabung, dan akhirnya sampailah pada bagian bagaimana kau bisa mencari uang tambahan agar tabungan yang kau investasikan untuk menunjang pengembangan anak-anakmu bisa menjadi lebih banyak dan lebih banyak lagi

Kau mulai memikirkan bagaimana anakmu tumbuh

Memeriksakan kesehatan mereka secara rutin

Memperhatikan dengan jeli setiap harinnya apakah ada yang salah dengan mereka

Cara mereka berbicara, cara mereka berpikir, cara mereka berjalan, cara mereka mengungkapkan rasa sayang mereka

Perlahan kau mulai sadar bahwa mereka duplikat dari dirimu

Bagaimana saat mereka marah dan membanting pintu kamar mereka di depan wajahmu, membentakmu, atau mengolok-olokmu secara sembunyi maupun terang-terangan

Kau akan mulai menyadari bahwa menjadi ibu tak semudah yang kau pikirkan sebelumnya

Bahwa menjadi ibu berarti kau mendedikasikan dirimu untuk anak-anak dan suamimu.

Kau mulai berpikir andai kau bisa kembali menjadi anak-anak

Mulai menyesal karena tak kau hargai waktumu yang singkat bersama pelukan hangat ayah bundamu

Kau lantas mengingat kembali saat lelaki yang sekarang suamimu datang memintamu dari ayahmu

Kau kira akan menyenangkan jika kau memiliki tempat berbagi yang dengannya kau merasa nyaman

Kau tak memikirkan bagaimana ketika dia marah

Bagaimana ketika hatinya terluka

Bagaimana ia ketika ia tak menginginkanmu ada di dekatnya

Kau hanya berpikir akan menyenangkan jika

Sangat menyenangkan kalau

Dan akan membahagiakan ketika

Tapi tidak dengan bagaimana ia saat sesuatu yang buruk menimpanya?

Bagaimana ia jika aku melakukan sesuatu yang buruk padanya?

Bagaimana jika aku masih mencintainya dan ia berhenti mencintaiku?

Menjadi istri, ibu, tak semudah kelihatannya

Saat kau terima pinangan dari seorang lelaki itu berarti kau siap memikul amanah luar biasa

Amanah untuk taat kepada suamimu

Amanah untuk membawa anak-anakmu ke surga

Dan amanah yang kau bawa sejak kau dalam kandungan bundamu untuk membawa orangtuamu ke surga

Tapi di atas semuanya, amanah terberat adalah amanah untuk tetap berjalan di koridor yang Allah tunjukkan dalam al quran agar kau dapat membawa dirimu, suamimu, anak-anak dan orangtuamu masuk ke surga

Agar kelak di hari akhir kalian tak menjadi musuh yang saling menuntut

Agar kelak tak ada satupun dari kalian yang saling mengambil pahala satu sama lain dan melimpahkan dosa kepada yang lainnya

Agar kelak tak ada hutang yang harus kau bayar dengan pahalamu yang tak seberapa

Dan tak ada dosa yang harus kau pikul karena kau kehabisan pahala

Ya, yang harus kita sadari

Menjadi ibu memang bukan perkara mudah, sedari dulu

Maka kulemparkan penghormatan untukmu yang telah menjadi seorang ibu

Pondasi terbangunnya peradaban-peradaban baru

Semoga denganmu yang memutuskan menjadi sebaik-baik ibu, Allah titipkan anak-anak shalih yang akan membawamu ke surgaNya

Semoga denganmu yang rela berlelah-lelah mengurus anak-anak dan suamimu dengan penuh cinta, Allah berikan kekuatan padamu untuk tetap tersenyum saat orang lain tak bisa tersenyum, saat anak-anak dan suamimu letihnya terobati karena senyummu

Dan semoga, dengan kemauanmu untuk terus belajar, Allah limpahkan cinta dan raahmatNya untukmu

Dan untukmu yang dengan sabar masih menunggu seseorang datang ke rumahmu, dan mempersuntingmu

Semoga Allah kirimkan seseorang yang takkan membiarkanmu berlelah-lelah sendirian

Semoga Allah kirimkan orang yang bisa membuat lelahmu hilang hanya dengan memandangnya

Semoga Allah kirimkan orang, dengan stok cinta yang tiada habisnya kepada rabbNya dan kepada dirimu

Menantilah dalam ketaatan, menantilah dalam kesabaran, menantilah dalam pembelajaran

Karena sekali lagi, menjadi ibu tak pernah semudah kelihatannya

Jumat, 27 Februari 2015

komentar telah dihapus



Lagi blogwalking, tiba-tiba pas baca satu tulisan, kamu lihat dibawahnya ada komentar yang dihapus sama sang empunya blog. Penasaran ya?  Begitu juga dengan aku!
Pernah suatu ketika, saat asyik-asyiknya blogwalking di sebuah blog, aku menemukannya. Awalnya aku membuka blog tersebut karena memasukkan salah satu keyword yang menurutku menarik, di google yang kemudian memunculkan link blog tersebut, yah sebut saja namanya blog Mawar.
Aku kira gaya tulisa blog mawar biasa saja, tapi ternyata tidak! Saat membaca tulisan-tulisan Mawar, aku memastikan bahwa aku akan menjadi pengunjung tetap blog ini. dan benar saja, tiap hari aku selalu membaca tulisan-tulisan Mawar dalam blognya yang menurutku laris manis karena banyak sekali komentar yang masuk. Komentar yang tak pernah kubaca karena kurasa kurang penting dan isinya pasti tidak jauh berbeda dari pemikiranku. Pujian atau masukan tentang tulisan Mawar yang mmenurutku sudah cukup sempurna sehingga bisa menjadi alasan untukku yang melihat mood sebagai penyumbang niat terbesar atas semua hal bukan kewajiban yang kulakukan, mengunjugi blognya dan membaca tulisannya tiap hari. Aku juga sudah bisa menebak komentarnya, lantas untuk apa aku membuang waktuku membacanya? Begitu pikiran picikku saat aku masih punya banyak stok tulisan-tulisan Mawar yang belum rampung kubaca.
Tapi ternyata tak butuh waktu lama untukku membabat habis ratusan artikel yang Mawar publikasikan di blognya sedangkan euforia karena menemukan kebiasaan baru saat berselancar di internet belum juga hilang. Dan disitulah bencana mulai muncul. Aku yang mendadak kepo dengan cara Mawar berinteraksi dalam dunia setengah nyata, mulai membabat habis kommentar-komentar yang banyak orang tinggalkan di tulisan-tulisannya. Walaupun benar sekali apa yang kukira dulu. Komentar-komentarnya hanya formalitas belaka. Numpang eksis. Tapi tunggu. Ada yang aneh saat akhirnya aku membaca komentar-komentar pada postingan Mawar yang ke tiga kalinya. Selalu ada komentar yang dihapus. Awalnya aku hanya sedikit penasaran. Siapa yang berkomentar? Komentar seperti apa? Rasis kah? Menghina kah? Ah sudahlah. Tapi jemariku gatal ingin menyelidiki.
Akhirnya kuputuskan untuk membuka postingan postingann Mawar berikutnya dan mencari komentar-komentar yang dihapus tanpa memedulikan komentar lain yang isinya sudah kutahu pasti. Benar saja. Disetiap postingannya selalu ada komentar yang dihapus. Selalu. Tidak pernah ada satupun postingan yang luput dari komentar yang dihapus. Pikiran kurang kerjaanku kemudian berkelana. Mungkinkah ada stalker yang dibenci oleh Mawar? Atau dia sedang memiliki masalah dengan sahabatnya? Apa dia memiliki pacar? Ah, mungkinkah mantan pacarnya? Atau yang lebih parah, mantan suaminya? Bagaimana bisa aku tidak menerka yang tidak-tidak? Postingannya masuk angka ratusan, dan dari ratusan itu tidak ada yang luput dari komentar yang dihapus. Gilak! Imajinasiku mendesakku berpikir lebih liar tanpa keluar dari koridor logis. Akhirnya aku menyerah, daripada habis-habisan menduga suatu hal yang belum tentu kebenarannya, aku memutuskan untuk menanyakannya pada Mawar. Membuat interaksi yang pertama kalinya dengan orang yang tulisannya kukagumi.
Hola, kak Mawar. Aku Rifda, aku sudah baca seluruh tulisan kakak dan aku merasa nyaman membacanya. Aku juga selalu menunggu tulisan-tulisan kakak yang terbaru. Oh iya, kakak punya twitter? Boleh dong follow @rifdarifdah :)
Agak malu sebenarnya mengirim komentar yang berbau sok akrab dan sok asik. Tapi mau bagaimana lagi? imajinasiku menunutku untuk melakukannya. Tiga hari setelah aku mengirim komentar di salah satu postingannya yang agak lama, aku mulai melupakannya karena banyak hal yang kukerjakan. Tapi saat aku membuka twitter pada malam harinya, aku dikejutkan olehnya yang mem follow akun twitterku dan mention darinya masuk sebelum aku sempat mengilangkan asa terkejutku.
Halo, @rifdarifdah . Terimakasih sudah berkenan baca tulisan saya. Salam kenal :)
wah! Aku melupakan bukan berarti tak menunggu jawaban. Langsung saja, demi mengobati rasa penasaranku yang bangkit kembali, aku menanyakan hal yang sejak awal ingin kutanyakan melalui DM ke akun twitternya
kak, maaf ya kalau kepo hehehe tapi kok aku liat di semua postingan tulisan kakak selalu ada komentar yang dihapus ya? Apa emang ada orang yang gak suka sama tulisan kakak? Padahal menurutku, tulisan kakak udah bagus banget. Hehe
to the point. Bukan karena gak punya adab tapi memang karena tingkat ke kepo an ku sudah mencapai batas maksimum. Kok bisa, dari ratusan postingan, gak pernah ada satupun postingan yang absen dari komentar yang dihapus. Segitu ada orang yang gak suka banget kah sama dia sampai dengan rajinnya mengomentari ratusan tulisannya? Segitu jelekkah tulisannya dimata orang lain sampai ada yang memaki atau tega-teganya menulis komentar mengejamkan di postingannya? Terus dan terus pikiranku membawaku pada spekulasi-spekulasi yang membuatku benar-benar penasaran setengah mati. Tak butuh waktu lama, ia membalas DM ku
hahaha, ternyata ada juga yang perhatiin dan penasaran. Ayo tebak itu siapa :D
waah, ini yang gak aku suka. Tebak-tebakan ketika rasa penasaranku mencapai puncaknya. Masalahnya ini bukan hal yang penting, gak berpengaruh apapun dalam hidupku dan aku Cuma mau mengobati rasa penasaranku.
Ah kaaaak, nyerah lah kak nyerah. Aku penasaran banget
Biarlah. Kalau ia tak berkenan memberitahuku, aku takkan menanyakannya lagi.
Hmm, sebenarnya kakak ragu mau kasihtau kamu dek, tapi biarlah. sebenarnya komentar yang dihapus itu, komentar yang kakak tulis sendiri dek.
Haaaaaaaaaa?
Aku melongo dan hanya mampu membalas “haaa”
Entah knp pngn aja punya blog yg beda dr yg lain. Awalnya kakak bingung gmn mau buat blog kakak beda dr yg lain tanpa kakak hrs usaha lebih.
Akhirnya 1x waktu kk lg baca2 blog org&lihat komentar yg dihapus, mnda2k kk kepikiran utk m’cirikan blog kk dgn sll ada komentar yg dihapus
Awalnya kakak mikir, ih aneh banget. Tapi ternyata setelah dijalani gak seaneh itu kok.
blog kakak jadi punya ciri khas yang benar-benar beda dari yang lain tanpa kakak harus mengeluarkan usaha lebih :)
wah bahaya nih orang. Aku sudah sampai penasaran setengah mati mengira ada hal-hal menakjubkan dibalik komentar-komentar yang dihapus. Tapi ternyata? Itu cuma ulah si empunya blog yang punya cara berpikir aneh. Tapi bagus juga sih, jadi ngebuat aku sadar betapa mudah nya aku berprasangka buruk sama hal-hal yang sepele bahkan gak penting dan gak ada hubungannya denganku. Ampuni aku ya Allah.