Pages

Kamis, 23 Juni 2016

Buat kamu!

Eh, kamu!
Kalau akhirnya waktu mempertemukan kita nanti, jangan jatuh padaku karena wajahku, ya!
Karena aku gak mau bikin kamu gak nyaman kalau pas kita bareng2 nanti, wajah aku tiba tiba penuh jerawat.
Jangan juga jatuh padaku karena badanku yang sangat langsing ini, ya!
Karena aku gak mau kamu bangun dari jatuhmu padaku, kalau nanti pas kita udah bareng2, aku berubah jadi teddy bear super besar, mendekati bigfoot.
Eh, kamu!
Jangan sayang sama aku karena sikapku yang kamu lihat manis, ya!
Karena aku gak mau sayang kamu berkurang kalau nanti, tiba2, misalnya, sifat aku yang kayak reman tiba2 muncul di depan kamu.
Jangan juga sayang sama aku karena orangtuaku yang luar biasa keren, ya!
Karena itu orangtuaku. Aku? Bisa jadi lebih keren! Canda!!
Eh, kamu!
Jangan ngebet minta aku dari abi, ya!
Karena aku masih jaaaauuuuuhhhh dari kata layak buat ninggalin abi dan ummi di tangan adek2ku yang rese.
Jangan juga ngebet minta aku dari abi karena kamu butuh dilayanin, ya!
Karena aku biasa dilayanin. Sama 4 orang kurcaci yang nurutin semua kata mbaknya. Aku gak mau kamu kecewa karena aku gak berbakat ngelayanin orang :')
Eh, kamu!
Jangan berani2nya datang ke rumah kalau pengalaman hidup kamu bakal selesai kamu ceritain ke aku dalam waktu kurang dari 1 tahun, ya!
Karena please, aku gak mau denger cerita yang itu2 aja, sayang :(
Jangan berani2nya kamu datang ke rumah kalau kamu pikir kamu kaya akan ilmu, ya!
Karena semakin kamu ngerasa begitu, semakin semua orang tau kalau kamu miskin ilmu dan aku bisa sedih kalau kamu direndahin orang, hmm.
Eh, kamu!
Gak usah bilang kalau kamu rindu sama aku, ya!
Aku gak suka sesuatu yang cheesy dan gak realistis. Kita belum pernah ketemu loh. Kamu juga gak tau aku nyebelin banget. Gak ngangenin sama sekali. Aku gak mau kamu nyesel~
Gak usah bilang kamu kangen terus kamu umbar2 di medsos terus pake aplotan gambar yang air mata air mata itu, ya!
Aku bisa huek mendadak :(
Eh, kamu!
Yang kuat, ya!
Lebih kuat dari gabungan kekuatan abi dan 3 adikku. Soalnya aku biasa dapet perlindungan maha aman dari mereka. Dari doa doa mereka.
Yang tabah, ya!
Lebih tabah dari abi dan ummi aku yang entah mimpi apa punya anak sulung kayak aku :( aku jd sedih kalo inget betapa aku nyusahin mereka
Eh, kamu!
Kalau akhirnya, nanti waktu mempertemukan kita, jagain aku ya biar aku gak malu2in kamu.
Jagain aku dari bencong bencong dan orang gila orang gila yang bertebaran di luar sana.
Ngga, aku gak takut. Aku cuma menghindari segala jenis kemungkinan diserang mendadak sama mereka.
Kalau nanti, akhirnya bumi melemparkan kita berdua pada satu tempat, tuntun aku, ya!
Biar aku gak tersesat dan tak tahu arah jalan ke surga.
Tuntun aku biar bisa jadi wajah kamu lagi di surga nanti.
Eh, kamu!
Yang sabar, ya!
Aku bakal nyusahin kamu banget. Lebih dari yang kamu bayangin pokoknya. Yang kuat, ya :')
Sabar, ikhlas, ya!
Ada banyak hal yang aku gak peka, ada banyak hal yang bisa bikin aku ngamuk tiba2, ada banyak hal yang sering aku lupa. Kamu harus bisa, ya, jadi pengganti abi :)
Eh, kamu!
Aku banyak maunya, aku aneh, aku rese, lawakan aku garing kayak rengginang, suara aku cempreng, aku suka tidur, aku gak suka makan, aku masih ngayal biar bisa terbang( maafin aku :( ), aku suka banget ngomong sendiri. Pokoknya intinya aku gak kayak orang kebanyakan. Jangan kaget, ya!
Ohiya.
Aku gak akan nunggu kamu. Jadi gak usah terbebani, ya. Jalani apa yang mau kamu jalani sendiri. Aku percaya segala gala gala keputusan langit. Takdir. Dan lagi, kita tak serendah itu, untuk memaksa langit mempercepat pertemuan kita, bukan?

Jumat, 08 April 2016

Pergi <5>

Sekali ini saja, biarkan aku menyelamatkan hatinya.
Biarkan aku membantunya membuat pelangi.
Sekali ini saja, biarkan aku memalingkan pandanganmu dari wajahku.
Membuatmu menoleh ke belakang dan melihatnya.
Bidadari yang berpeluh membantumu menggapaiku dengan mengabaikan keinginannya memilikimu.

Sekali ini saja.
Biarkan aku saja yang pergi.

Kamis, 07 April 2016

Pergi <4>

Terima kasih.
Karena kau melepaskanku, aku bisa bernafas lebih leluasa sekarang.
Dan, maaf.
Aku tak lagi bisa menggenggam jemarimu.
Menuntunmu melewati jalanmu.
Kita akhirnya bertemu persimpangan.
Persimpangan yang mengharuskanku melepas genggaman tangan kita, dan berjalan berlawanan arah denganmu.



Aku tahu kau menyembunyikan tangismu.
Menidurkan mimpimu untuk membersamaiku mengejar mimpiku.
Aku tahu genggaman tanganmu makin lama makin mengendur, beriringan dengan mimpimu yang tak lagi bisa kau buat tertidur.

Aku tahu nafasmu tertahan.
Menyakitkan mendengarnya, kau tahu?
Menyesakkan mengetahui bahwa kau begitu mencintaiku hingga kau tahan tangismu, kau penjarakan mimpimu.



Terimakasih.
Membiarkan air mataku tak lagi menetes.



Aku tahu kau menatapku tiap aku terlelap.
Mencari celah agar kau bisa pergi tanpa membuatku merasa kehilangan.

Kau membuatku hidup
Juga membunuhku perlahan



Terima kasih.
Telah membiarkanku menumbuhkan sayapku
Lalu terbang.



Aku akan membiarkanmu pergi.
Agar kau tak lagi membunuhmu.
Agar kau tak lagi membunuhku.
Tanpa sadar.



Terima kasih.
Aku pergi.

Rabu, 06 April 2016

Pergi <3>

Dari sekian banyak rupa, kenapa milikmu yang membuatku jatuh?

Kenapa tubuhmu yang tersiram hujan, yang membuatku ingin memayungimu?

Kenapa senyummu yang terlukis bukan untukku, yang membuatku mengarahkan pandanganku padamu?


Dari sekian banyak warna, kenapa warnamu yang membuatku bertransformasi menjadi pelangi?


Pertanyaan tertahan tanpa menghasilkan jawaban.

Aku jatuh padamu. Namun untuk memintamu melihat bahwa aku jatuh, bukan aku.

Maka demi harga diriku, aku bangun dari jatuh yang tak seorangpun tahu.

Membasuh lukaku kemudian tersenyum, lagi, kala menatap matamu.

Membuatmu tak mencurigaiku, membuat yang lain tak melihat lukaku yang belum sembuh.

Aku berdebar. Tapi debarnya seirama dengan otakku yang terus menerus berpikir.


Aku jatuh di tempatmu, namun kau jatuh bukan di hadapanku.

Daripada membuatmu bangun dari jatuhmu untuk jatuh kepadaku, aku mengerti.

Lebih baik aku yang bangun dari jatuhku agar kau tetap jatuh di tempatmu.

Agar kau, tetap bahagia dengan jatuhmu.


Lebih baik aku yang bangun dan menyadari bahwa lukaku berdarah.

Selasa, 05 April 2016

Pergi <2>

Aku masih mengingat kecupan pertama saat aku pergi.
Meninggalkan buaianmu, menjauhi hangatmu.
Kau yang dulu sempurna berkata jangan, kini sempurna memintaku pergi.
Mengejar angan yang tak sedikitpun ada milikmu di dalamnya.
Meniti harap yang tak setetespun karenamu.

Aku masih mengingat peluk terakhir sebelum akhirnya aku pergi.
Wajahku tak lagi menjadi sarapanmu tiap pagi
Suaraku tak lagi jadi lagumu tiap hari

Aku masih merasakan cinta yang kau tinggalkan dalam ranselku.
Menjagaku tetap hidup
Menjagaku tetap bahagia

Tak. Tak pernah ada buai yang senyaman milikmu.
Tak pernah ada lagu yang seindah lagumu
Tak pernah ada rasa yang selezat rasamu

Kita sama-sama tahu
Aku tak ingin pergi
Dan kau
Tak ingin aku pergi

Tapi kemudian cinta yang lebih besar datang
Karena bahagiamu tanggung jawabku
Dan bahagiaku tanggung jawabmu
Karena tanggung jawab itu, aku pergi
Dan kau membiarkanku pergi karena alasan yang sama

Perginya aku, meninggalkan ruang kosong dalam hatimu
Sama sepertiku

Ruang kosong yang biasanya terisi lagu-lagu indah tanpa henti
Ruang kosong yang biasanya meluap oleh bahagia karena tawamu
Ruang kosong yang biasanya penuh cinta

Pergi.
Dengan cinta yang masih tinggal dalam buaimu tanpa ragaku

Minggu, 03 April 2016

Pergi <1>

Walau habis nafasku, aku takkan pernah memintamu kembali. Tidak untuk sekarang, tidak juga untuk selamanya. Ya, hingga habis nafasku.

Bukan aku tak pernah mengerti kemana kisah ini berpulang. Bukan juga berarti aku tak menggunakan benda kecil dengan triliyunan saraf yang tersambung di kepalaku dengan baik.

Bukan.

Aku hanya tak mampu melihat segala hal yang kau jadikan alasan untuk meninggalkanku.
Meninggalkan kita dan berpaling tanpa menoleh padaku.

Aku tak pernah bisa menjadi sekuat yang kau minta. Aku tak pernah bisa memimpinmu. Aku tak pernah bisa melenyapkan lemahku dan mencari kuatku yang melebihimu.

Katamu.

Lalu dengan matamu yang penuh genangan mengalir yang kemudian segera kuhapus, aku memelukmu tanpa kau rasa dan menendangmu jatuh.

Ya, kau memiliki hatiku bersamamu tapi aku, masih menempatkan otakku pada kotak kaca di dalam kepalaku.

Ketimbang mengambil hatiku yang kau bawa pergi, aku akan mempertahankan akal sehatku.

Bukan karena kau tak mampu maka kau menyerah untuk melebihi hebatku.

Melainkan karena, melebihi hebatku terlalu membunuhmu.
Hingga akhirnya kau menyerah dan melaporkan ketidakmampuanmu dengan meninggalkanku.

Dan aku, tak bisa menerimanya.

Hingga akhirnya kau memilih tak lagi menoleh ke belakang saat kau melarikan diri dariku.

Aku mengerti.

Kau tak lagi memilih tinggal.

Jadi pergilah tanpa sesal.
Sekali lagi, pergilah tanpa sesal.

Karena aku, takkan mengijinkanmu kembali.

Selasa, 16 Februari 2016

STORY BLOG TOUR OWOP EPS.2: PENARIK KERAH BAJU

Kalau kau bilang menjadi wartawan merupakan pekerjaan yang menyenangkan, kau salah besar! Menyiapkan pertanyaan-pertanyaan-beserta pertanyaan cadangan- yang harus kau pikirkan masak-masak agar berita yang kau buat sempurna, mengejar narasumber yang mendadak menjadi sok penting, me-reschedule jadwal pertemuan dengan narasumber karena alasan sepele, dikejar deadline artikel, dan segudang masalah lain yang tak bisa dijabarkan satu persatu. Menjadi wartawan, apalagi wartawan skala nasional dengan jam terbang yang bisa kau bilang sangat tidak manusiawi, akan mengambil beberapa persen dari kewarasanmu dan memunculkan sedikit korsleting saraf-saraf di otakmu.

-0-0-0-0-0-

“DIBAAAA!!! LO KENAPA SIH SUKA BANGET NARIK KERAH BAJU ORANG?!!!” udah beribu-ribu kali gue denger kalimat itu. Dan kali ini, kalimat itu keluar dari mulut bocah paling tablo sedunia, Revan.

“heh, gue pernah bilang kan sama lo? Jangan pernah jalan di depan gue karena gue gak suka orang yang jalannya lelet kayak elo! Minggir, lo!” dasar tulalit! Emang ya otak orang kelewat pinter itu beda banget sama otak orang yang berusaha pinter. Gue kan udah bilang berkali-kali kalau gue gak suka liat penampilannya yang kayak orang katro. Kacamatanya, sepatunya, celana bahannya. DUH!

-0-0-0-0-

Audiba Dinianty
Namanya cantik, wajahnya juga cantik. Sayang seribu sayang, kelakuannya kayak preman pasar. Ganas. Bukan sekali dua kali dia berani ngerendahin harkat dan martabat gue sebagai cowok brilian yang harusnya masuk jurusan kedokteran tapi malah nyasar di jurusan jurnalistik. Gue ingat banget, waktu pertama kali masuk kampus. Pas ospek, dia narik kerah baju kakak tingkat dari belakang sampai bajunya sobek dan bahu kakak tingkat itu terekspos kemana-mana dan bukannya minta maaf, dia malah ketawa ngakak sambil ngasih pulpen ke kakak tingkat itu. Setelah jadi mahasiswa gue baru tau ternyata dia Cuma mau ngembaliin pulpen kakak itu. Yang gue heran, kenapa harus narik kerah baju, DIBAAA?!

“blo, lo gak bosen belajar mulu?” nyamperin gue yang lagi duduk di kantin sambil baca-baca artikel, enak banget dia main seruput es jeruk gue. Manggil gue tablo tanpa rasa bersalah.

“dib, lo kenapa sih narikin kerah baju orang mulu? Gak bosen?”

“yeee gembel lu. Ditanya balik nanya. Emang kenapa kalo gue suka narikin kerah baju orang? Masalah buat lo? Buat keluarga lo? Buat masa depan lo?” kan kaan kaaann. Mulai lagi. satu hal lagi yang gak gue suka dari Diba adalah tempramennya yang kelewat parah. Penyakit darah tinggi yang diakumulasi kepribadian koleris. Senggol bacok aja bawaannya.

“sabar, dib. Orang sabar disayang Allah. Gue kan Cuma nanya, kalo lo gak mau jawab, yaudah gapapa kok.” Setengah sadar, gue nyodorin es jeruk gue biar dia adem. Malu juga diliatin seisi kantin gara-gara teriakan Diba yang kayak geledek di siang bolong.

-0-0-0-0-0-0-0-0-

“mbak Dib, deadline artikel mas Revan lusa ya!” Rena teriak dari mejanya.

Membuyarkan lamunanku tentang masa-masa kuliah dulu. Revan. Dari sekian banyak penulis bestseller yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini, KENAPA HARUS REVAN?!! Kenapa harus Revan yang aku wawancara gustiiiii. Dari sekian banyak wartawan di Negara Kesatuan Republik Indonesia tersayang ini, KENAPA HARUS AKU?!! Gak cukup kah penderitaanku di masa lampau? Siapa pula yang sudi ketemu sama mantan suami yang kau ceraikan gara-gara kesalahpahaman? SIAPA?!!!

“ARGGH!!”

“ASTAGHFIRULLAH”

“MBAK DIBAAAAA!!! Jangan tiba-tiba teriak kayak orang kesetanan dong mbak!” si cempreng Rena ngamuk. Padahal aku gak bermaksud untuk mengeluarkan teriakan maut itu tapi apa daya, sudah terlanjur keluar.

“keceplosan, Ren. Sowry.” Ucapku sambil nyengir. Membuat Rena menggelengkan kepala sambil memegang kerah bajunya. Aku tahu itu trauma. Waktu pertama kali masuk kantor, bocah itu pernah dengan sengaja kupanggil dan kutarik kerah kemejanya sampai membuatnya ambruk ke lantai kantor.  Posisi jatuh duduk. Terbaiks.

“narsum lo reschedule, Dib?” Tio, si culun maniak perangko itu menyapaku.

“narsum? Enggak kok. Ngapa emang?”

“sekarang pukul 3, Audiba Dinianty. Kecuali lo reschedule jadwal wawancara lo, gue yakin seyakin gue yakin sama Allah kalo lo udah terlambat wawancara, sweetheart.”

“OMAYGAT OMAYGAT OMAYGAT!!!!” tanpa ba bi bu aku langsung menyambar ransel dan topi hitam serta masker kesayanganku, seketika teringat soundtrack kartun kesukaanku waktu kecil dulu.

Lari lari lari (lari lari lari) tendang dan berlari, berjuanglah Tsubatsa, pahlawan kita..

Tulisan ini merupakan tulisan yang dibuat dalam rangka STORY BLOG TOUR One Week One Paper.
Episode 1: Ketika Adiba Kembali - Tutut
Episode 2: Penarik Kerah Baju - Rifdah
Episode 3: masih coming soon dan akan terbit dari web Rias

HAPPY READING!!!