Pages

Rabu, 06 April 2016

Pergi <3>

Dari sekian banyak rupa, kenapa milikmu yang membuatku jatuh?

Kenapa tubuhmu yang tersiram hujan, yang membuatku ingin memayungimu?

Kenapa senyummu yang terlukis bukan untukku, yang membuatku mengarahkan pandanganku padamu?


Dari sekian banyak warna, kenapa warnamu yang membuatku bertransformasi menjadi pelangi?


Pertanyaan tertahan tanpa menghasilkan jawaban.

Aku jatuh padamu. Namun untuk memintamu melihat bahwa aku jatuh, bukan aku.

Maka demi harga diriku, aku bangun dari jatuh yang tak seorangpun tahu.

Membasuh lukaku kemudian tersenyum, lagi, kala menatap matamu.

Membuatmu tak mencurigaiku, membuat yang lain tak melihat lukaku yang belum sembuh.

Aku berdebar. Tapi debarnya seirama dengan otakku yang terus menerus berpikir.


Aku jatuh di tempatmu, namun kau jatuh bukan di hadapanku.

Daripada membuatmu bangun dari jatuhmu untuk jatuh kepadaku, aku mengerti.

Lebih baik aku yang bangun dari jatuhku agar kau tetap jatuh di tempatmu.

Agar kau, tetap bahagia dengan jatuhmu.


Lebih baik aku yang bangun dan menyadari bahwa lukaku berdarah.

Selasa, 05 April 2016

Pergi <2>

Aku masih mengingat kecupan pertama saat aku pergi.
Meninggalkan buaianmu, menjauhi hangatmu.
Kau yang dulu sempurna berkata jangan, kini sempurna memintaku pergi.
Mengejar angan yang tak sedikitpun ada milikmu di dalamnya.
Meniti harap yang tak setetespun karenamu.

Aku masih mengingat peluk terakhir sebelum akhirnya aku pergi.
Wajahku tak lagi menjadi sarapanmu tiap pagi
Suaraku tak lagi jadi lagumu tiap hari

Aku masih merasakan cinta yang kau tinggalkan dalam ranselku.
Menjagaku tetap hidup
Menjagaku tetap bahagia

Tak. Tak pernah ada buai yang senyaman milikmu.
Tak pernah ada lagu yang seindah lagumu
Tak pernah ada rasa yang selezat rasamu

Kita sama-sama tahu
Aku tak ingin pergi
Dan kau
Tak ingin aku pergi

Tapi kemudian cinta yang lebih besar datang
Karena bahagiamu tanggung jawabku
Dan bahagiaku tanggung jawabmu
Karena tanggung jawab itu, aku pergi
Dan kau membiarkanku pergi karena alasan yang sama

Perginya aku, meninggalkan ruang kosong dalam hatimu
Sama sepertiku

Ruang kosong yang biasanya terisi lagu-lagu indah tanpa henti
Ruang kosong yang biasanya meluap oleh bahagia karena tawamu
Ruang kosong yang biasanya penuh cinta

Pergi.
Dengan cinta yang masih tinggal dalam buaimu tanpa ragaku

Minggu, 03 April 2016

Pergi <1>

Walau habis nafasku, aku takkan pernah memintamu kembali. Tidak untuk sekarang, tidak juga untuk selamanya. Ya, hingga habis nafasku.

Bukan aku tak pernah mengerti kemana kisah ini berpulang. Bukan juga berarti aku tak menggunakan benda kecil dengan triliyunan saraf yang tersambung di kepalaku dengan baik.

Bukan.

Aku hanya tak mampu melihat segala hal yang kau jadikan alasan untuk meninggalkanku.
Meninggalkan kita dan berpaling tanpa menoleh padaku.

Aku tak pernah bisa menjadi sekuat yang kau minta. Aku tak pernah bisa memimpinmu. Aku tak pernah bisa melenyapkan lemahku dan mencari kuatku yang melebihimu.

Katamu.

Lalu dengan matamu yang penuh genangan mengalir yang kemudian segera kuhapus, aku memelukmu tanpa kau rasa dan menendangmu jatuh.

Ya, kau memiliki hatiku bersamamu tapi aku, masih menempatkan otakku pada kotak kaca di dalam kepalaku.

Ketimbang mengambil hatiku yang kau bawa pergi, aku akan mempertahankan akal sehatku.

Bukan karena kau tak mampu maka kau menyerah untuk melebihi hebatku.

Melainkan karena, melebihi hebatku terlalu membunuhmu.
Hingga akhirnya kau menyerah dan melaporkan ketidakmampuanmu dengan meninggalkanku.

Dan aku, tak bisa menerimanya.

Hingga akhirnya kau memilih tak lagi menoleh ke belakang saat kau melarikan diri dariku.

Aku mengerti.

Kau tak lagi memilih tinggal.

Jadi pergilah tanpa sesal.
Sekali lagi, pergilah tanpa sesal.

Karena aku, takkan mengijinkanmu kembali.

Selasa, 16 Februari 2016

STORY BLOG TOUR OWOP EPS.2: PENARIK KERAH BAJU

Kalau kau bilang menjadi wartawan merupakan pekerjaan yang menyenangkan, kau salah besar! Menyiapkan pertanyaan-pertanyaan-beserta pertanyaan cadangan- yang harus kau pikirkan masak-masak agar berita yang kau buat sempurna, mengejar narasumber yang mendadak menjadi sok penting, me-reschedule jadwal pertemuan dengan narasumber karena alasan sepele, dikejar deadline artikel, dan segudang masalah lain yang tak bisa dijabarkan satu persatu. Menjadi wartawan, apalagi wartawan skala nasional dengan jam terbang yang bisa kau bilang sangat tidak manusiawi, akan mengambil beberapa persen dari kewarasanmu dan memunculkan sedikit korsleting saraf-saraf di otakmu.

-0-0-0-0-0-

“DIBAAAA!!! LO KENAPA SIH SUKA BANGET NARIK KERAH BAJU ORANG?!!!” udah beribu-ribu kali gue denger kalimat itu. Dan kali ini, kalimat itu keluar dari mulut bocah paling tablo sedunia, Revan.

“heh, gue pernah bilang kan sama lo? Jangan pernah jalan di depan gue karena gue gak suka orang yang jalannya lelet kayak elo! Minggir, lo!” dasar tulalit! Emang ya otak orang kelewat pinter itu beda banget sama otak orang yang berusaha pinter. Gue kan udah bilang berkali-kali kalau gue gak suka liat penampilannya yang kayak orang katro. Kacamatanya, sepatunya, celana bahannya. DUH!

-0-0-0-0-

Audiba Dinianty
Namanya cantik, wajahnya juga cantik. Sayang seribu sayang, kelakuannya kayak preman pasar. Ganas. Bukan sekali dua kali dia berani ngerendahin harkat dan martabat gue sebagai cowok brilian yang harusnya masuk jurusan kedokteran tapi malah nyasar di jurusan jurnalistik. Gue ingat banget, waktu pertama kali masuk kampus. Pas ospek, dia narik kerah baju kakak tingkat dari belakang sampai bajunya sobek dan bahu kakak tingkat itu terekspos kemana-mana dan bukannya minta maaf, dia malah ketawa ngakak sambil ngasih pulpen ke kakak tingkat itu. Setelah jadi mahasiswa gue baru tau ternyata dia Cuma mau ngembaliin pulpen kakak itu. Yang gue heran, kenapa harus narik kerah baju, DIBAAA?!

“blo, lo gak bosen belajar mulu?” nyamperin gue yang lagi duduk di kantin sambil baca-baca artikel, enak banget dia main seruput es jeruk gue. Manggil gue tablo tanpa rasa bersalah.

“dib, lo kenapa sih narikin kerah baju orang mulu? Gak bosen?”

“yeee gembel lu. Ditanya balik nanya. Emang kenapa kalo gue suka narikin kerah baju orang? Masalah buat lo? Buat keluarga lo? Buat masa depan lo?” kan kaan kaaann. Mulai lagi. satu hal lagi yang gak gue suka dari Diba adalah tempramennya yang kelewat parah. Penyakit darah tinggi yang diakumulasi kepribadian koleris. Senggol bacok aja bawaannya.

“sabar, dib. Orang sabar disayang Allah. Gue kan Cuma nanya, kalo lo gak mau jawab, yaudah gapapa kok.” Setengah sadar, gue nyodorin es jeruk gue biar dia adem. Malu juga diliatin seisi kantin gara-gara teriakan Diba yang kayak geledek di siang bolong.

-0-0-0-0-0-0-0-0-

“mbak Dib, deadline artikel mas Revan lusa ya!” Rena teriak dari mejanya.

Membuyarkan lamunanku tentang masa-masa kuliah dulu. Revan. Dari sekian banyak penulis bestseller yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini, KENAPA HARUS REVAN?!! Kenapa harus Revan yang aku wawancara gustiiiii. Dari sekian banyak wartawan di Negara Kesatuan Republik Indonesia tersayang ini, KENAPA HARUS AKU?!! Gak cukup kah penderitaanku di masa lampau? Siapa pula yang sudi ketemu sama mantan suami yang kau ceraikan gara-gara kesalahpahaman? SIAPA?!!!

“ARGGH!!”

“ASTAGHFIRULLAH”

“MBAK DIBAAAAA!!! Jangan tiba-tiba teriak kayak orang kesetanan dong mbak!” si cempreng Rena ngamuk. Padahal aku gak bermaksud untuk mengeluarkan teriakan maut itu tapi apa daya, sudah terlanjur keluar.

“keceplosan, Ren. Sowry.” Ucapku sambil nyengir. Membuat Rena menggelengkan kepala sambil memegang kerah bajunya. Aku tahu itu trauma. Waktu pertama kali masuk kantor, bocah itu pernah dengan sengaja kupanggil dan kutarik kerah kemejanya sampai membuatnya ambruk ke lantai kantor.  Posisi jatuh duduk. Terbaiks.

“narsum lo reschedule, Dib?” Tio, si culun maniak perangko itu menyapaku.

“narsum? Enggak kok. Ngapa emang?”

“sekarang pukul 3, Audiba Dinianty. Kecuali lo reschedule jadwal wawancara lo, gue yakin seyakin gue yakin sama Allah kalo lo udah terlambat wawancara, sweetheart.”

“OMAYGAT OMAYGAT OMAYGAT!!!!” tanpa ba bi bu aku langsung menyambar ransel dan topi hitam serta masker kesayanganku, seketika teringat soundtrack kartun kesukaanku waktu kecil dulu.

Lari lari lari (lari lari lari) tendang dan berlari, berjuanglah Tsubatsa, pahlawan kita..

Tulisan ini merupakan tulisan yang dibuat dalam rangka STORY BLOG TOUR One Week One Paper.
Episode 1: Ketika Adiba Kembali - Tutut
Episode 2: Penarik Kerah Baju - Rifdah
Episode 3: masih coming soon dan akan terbit dari web Rias

HAPPY READING!!!

Jumat, 15 Januari 2016

LUKA



Kamu melukaiku
Aku yang sampai perih hati ini menahan rindu
Menunggumu
Kamu menyakitiku
Katamu, kau tak akan pergi jika aku tak memintamu pergi
Tapi kau pergi, saat aku memintamu tetap tinggal
Kau tahu yang lebih membuatku terluka?
Kau tidak pergi menuju-Nya
Kau, pergi menuju dekapan gadis lain
Yang bahkan tak ada apa-apanya bila disandingkan denganku
Kau pergi
Saat aku sedang mencoba menjadi ibu bagi anak-anakmu kelak, sampai berdarah
Aku butuh wanita, bukan ibu, katamu
Padahal aku ingat jelas
Sangat jelas sampai berulang kali terputar dalam otakku tanpa kuminta
seperti kaset rusak
Kau dulu bilang bahwa
Kau mencari ibu untuk anak-anakmu
Karenanya, kau memberanikan diri mendekati aku yang liar seperti singa
Aku butuh orang yang padanya aku juga bisa pulang
Aku butuh wanita yang kuat sepertimu
Tunggu aku
Sebentar saja
Aku akan menjemputmu
Katamu
Tapi kemudian kau menghilang seolah ditelan lautan
Dan kembali dengan seorang wanita yang kau sebut sebagai cinta
Lalu aku?
Aku hanyalah rumah lamamu yang sudah tak layak huni
Oh, bukan
Aku hanyalah rumah lamamu yang sekarang terlalu bagus untuk kau huni
Yang tagihan listrik dan airnya, perawatannya, kenyamanannya, tidak sanggup lagi kau bayar
Karenanya
Kau memutuskan untuk pergi. Pindah
Ke rumah yang lebih jelek
Yang hanya bisa melindungimu dari hujan dan panas
Maka untukmu
Kuucapkan selamat tinggal
Dan camkan bahwa
Aku takkan pernah memintamu kembali
Takkan pernah membiarkanmu kembali padaku
Walau kau layak kembali padaku
Walau kau memohon sampai habis suara dan air matamu
Walau kau membuat matamu buta agar kau hanya bisa melihat dan mengingatku
Walau kau membuat telingamu tuli agar satu-satunya suara yang kau ingat adalah suaraku
Aku
Akan berdiri di puncak gunung tertinggi
Melihatmu dari sana
Dan mengatakan padamu dengan lantang
Aku telah menghapus namamu dari hidupku
Membakar habis kenangan yang pernah kita miliki
Karena kau, tak layak untuk menjadi pendampingku
Aku singa
Tapi kau hanya seekor domba yang memainkan peran sebagai serigala



Rabu, 09 September 2015

Mungkin Pernah

Mungkin pernah kita berpapasan, lewat malam-malam panjang yang digelayuti kelelahan.

Mungkin pernah kita saling menatap, entah dalam ramainya bis kota, entah dalam hening yang terpendam sesaknya krl jabodetabek.

Mungkin pernah, kita sama sama tertawa atas lelucon yang diciptakan seseorang dalam kotak kecil berpendar cahaya.

Mungkin pernah kita saling menyapa, tersenyum bahkan melambai dalam mimpi.

Mungkin pernah kita berbagi, gundah gelisah yang meluncur bersamaan dengan jutaan gundah gelisah yang sama dalam sebaskom kicau.

Mungkin pernah kita duduk berhadapan, berjeda gedung-gedung bertingkat, rumah-rumah beton, dusun-dusun bambu.

Mungkin pernah, aku berdiri satu shaff di belakangmu, mengaamiinkan al fatihahmu.

Mungkin pernah aku berterimakasih padamu, membungkuk, bersujud mendoakanmu.

Mungkin pernah kau memandangku lekat, ragu-ragu mendekat lalu kemudian berpaling begitu tahu itu aku, salah orang.

Mungkin pernah aku melihat namamu terpampang di suatu tempat, sambil lalu lewat di pikiranku.

Mungkin pernah kau menyatakan cinta lalu aku membalasnya. Lewat cerita penuh derai air mata di setiap malam yang kuhabiskan berdua denganNya.

Mungkin pernah, mungkin.

Senin, 31 Agustus 2015

Kapan Nikah?

Kalimat pertanyaan sakti yang sepertinya gemar meloncat keluar dari mulut sesepuh-sesepuh di keluarga besar atau bahkan teman sejawat yang iseng bertanya tanpa bercermin terlebih dahulu. Yes, kapan nikah merupakan wujud perhatian mendalam, penghinaan terselubung, serta persaingan tak kasat mata yang terlontar dalam bentuk pertanyaan sederhana yang terdiri dari dua kata yang jika digabungkan, secara ajaib bisa berdampak luar biasa dalam kehidupan seseorang hingga dapat menyebabkan kepeningan yang tiada habisnya, fobia dengan hari lebaran dan arisan keluarga, serta sensitif dan emosian berkepanjangan. Mereka yang sekarang tertawa lepas dan bahagia karena kehangatan yang diberikan keluarga kecil mereka dan menikah di usia yang cukup matang, sejatinya pasti pernah mengalami pertanyaan ini.

Sebenarnya, menikah merupakan momen yang sakral dan selayaknya terlaksana sekali seumur hidup agar tidak ada hati yang tersakiti. Namun setelah menikah, ternyata masih sangat banyak hal yang perlu dipertanyakan berkaitan dengan keberlangsungan hidup satu keluarga baru. Karenanya, saya ingin saat saya dipertemukan dengan jodoh saya dan diizinkan menggenapkan separuh agama saya oleh tuhan saya, saya memiliki pengetahuan dasar yang cukup untuk setidaknya bertahan berada dalam satu kapal besar, berlayar dengan seorang nahkoda baru yang tak memiliki ikatan darah dengan saya tapi bersedia mengorbankan segalanya agar kapal besar kami sampai ke tujuan dengan selamat dan tidak karam di tengah derasnya terjangan badai yang bukan tidak mungkin akan menerpa keluarga kecil kami. Saya ingin, saat nanti tuhan saya mengizinkan saya mencintai seseorang yang akan membimbing saya ke surga, apa yang saya kerjakan untuk membantu cinta saya bernilai ibadah dan mendapatkan ridhoNya.

Walaupun sampai detik ini, telinga saya masih suci dari pertanyaan 'kapan nikah?' Karena saya dan keluarga ajaib saya bukan penganut suatu paham yang berpendapat bahwa syarat utama dan wajib menikah adalah umur yang sudah matang. Karena umur yang sudah matang tak menjamin kematangan mental dan kedewasaan. Maka kelak, jika pertanyaan sakti itu mulai meluncur memenuhi ruang2 kecil di dalam kepala saya, saya hanya akan tersenyum dan menjawab 'sama halnya dengan rezeki, jodoh pun sudah ada yang mengatur. Saya yang tahu bagaimana diri saya dan hanya tuhan saya yang tahu apa yang terbaik untuk saya. Saya hanya akan menunggu apa dan siapa yang diputuskan tuhan saya untuk saya sebagai tanda cintaNya kepada saya. Kapan? Saya juga tak tahu. Tak seorangpun tahu.'

Maka untukmu yang sedang gamang karena yang ditunggu untuk berlayar tak kunjung datang, mendekatlah padaNya. Bukan untuk meminta apa yang kau inginkan, bukan untuk memohon agar datangnya cinta lebih cepat lagi. Melainkan untuk merasakan belaian lembut dariNya yang menelusupkan ketenangan dalam batin dan membisikkan '...dan tuhanmu sama sekali tidak menzhalimi hamba-hambaNya.” [41:46]

September pertama, hari kedua
Rifdatun Nafi'ah